TERAPI HIDUP SEHAT ALA RASULULLAH SAW

Posted on February 29, 2012. Filed under: ARTIKEL ISLAM, ARTIKEL KESEHATAN, BEBAS DI COPY PASTE, GRATIS ARTIKEL, NABI MUHAMMAD SAW SANG TABIB | Tags: , , , , , , |

  1. 1.      PENYAKIT THA’UN DAN KARANTINA

Muslim meriwayatkn dari Usamah bin Zaid bahwa Rasulullah SAW., bersabda: “ Wabah Tha’un merupakan siksa yang ditimpakan kepada umat sebelum kalian (Kepada bani Israil). Apabila kalian mendengar wabah ini menyerang suatu daerah maka janganlah kalian keluar untuk menghindarinya dan apabila wabah itu menimpa suatu daerah maka janganlah kalian masuki daerah tersebut. “

  1. A.    Hadits tentang sebab-sebab datangnya wabah Tha’un

Suatu hari Nabi Musa AS dan puluhan ribu orang Bani Israil singgah di Kan’an, salah satu wilayah di Syam-Syiria. Melihat kedatangan mereka, segeralah warga Kan’an mengadukan mereka kepada Bal’am, seorang tokoh yang sangat disegani. “Orang ini adalah Musa bin Imran yang memimpin Bani Israil. Dia datang untuk mengusir kami lalu menempati negeri kami padahal kami tidak memiliki tempat tinggal. Engkau adalah orang yang doanya makbul, maka doakanlah mereka dengan keburukan”. Kata warga Kan’an.

Mendengar itu justru Bal’am marah. “Celakalah kamu. Yang bersama Nabi  الله  itu adalah para malaikat dan orang-orang yang beriman. Bagaimana mungkin aku mendoakan mereka dengan nasib buruk padahal aku mengetahui dari  الله  apa yang aku ketahui “. Katanya. Karena mereka terus membujuk, akhirnya Bal’am terpengaruh juga. Maka Bal’am pun mengendarai keledainya menuju gunung Husban, tempat tinggal Nabi Musa AS berkemah. Namun belum jauh berjalan, keledainya berhenti. Mungkin karena kelelahan, maka iapun turun dan beristirahat sejenak. Tak lama kemudian ia melanjutkan perjalanan. Tetapi belum jauh berjalan, keledainya berhenti lagi. Anehnya dengan izin الله keledai itu dapat berbicara.

“Celakalah kamu wahai Bal’am, hendak pergi ke mana kamu ?, apakah kamu tidak melihat para malaikat di depanku yang memalingkan wajahnya ?, apakah kamu hendak menemui Nabi الله  dan orang-orang mukmin untuk mendoakan dengan sesuatu yang buruk?” kata keledai.

Tetapi karena telah dikuasai hawa nafsu, Bal’am tidak menghiraukan perkataan keladai tersebut, bahka ia semakin kuat memukul hewan tunggangan itu. Akhirnya dengan terpaksa keledai itu menuruti perintah tuannya, berjalan sampai di puncak gunung Husban.

Sesampai di puncak gunung itu serta merta Bal’am pun mendoakan sesuatu yang buruk untuk Nabi Musa AS dan kaumnya. Akan tetapi ketika ia memulai doanya,  الله  SWT mengubah gerakan-gerakan lidahnya, sehingga yang keluar dari mulunya adalah doa yang sangat baik untuk Nabi Musa AS dan kaumnya, dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kaum Kan’an. Mendengar hal itu kaum Kan’an kaget . “Hai Bal’am, apa yang kamu lakukan ?, kamu telah mendoakan dengan sesuatu yang baik kepada mereka dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kami ?”kata mereka. “Sesungguhnya doa yang keluar dari mulutku tadi bukan karena kemauanku akan tetapi kekuasaan dan kehendak الله SWT yang sama sekali tidak aku sadari”. Jawab Bal’am. Kemudian Bal’am berkata lagi kepada kaumnya,”Kalau begitu aku akan membuat tipu daya dan muslihat dikalangan Bani Israil”.

Maka dikumpulkanlah beberapa wanita cantik, mereka diberi pakaian yang indah dengan perhiasan dan wewangian. Dengan dibekali beberapa barang dagangan yang menarik, mereka dikirim ke perkemahan Nabi Musa AS.

“Suruh mereka menuruti keiinginan orang-orang yang ingin berzina, agar mereka semua celaka”. Kata Bal’am kepada kaumnya. Tak lama kemudian, para wanita cantik itu tiba di perkemahan Nabi Musa AS. Salah seorang diantara mereka adalah Kasbi binti Suar, berjalan di depan kemah Zamri bin Syalum. Maka kepala suku Syam’un itupun terpesona hatinya lalu membawa Kasbi menghadap Nabi Mus AS. “Mungkin Tuan akan mengatakan bahwa wanita ini adalah haram bagiku, karena itu Tuan melarangku untuk mendekatinya”. Kata Zamri.

“Benar, wanita ini diharamkan bagimu, jangan dekati dia”. Jawab Nabi Musa AS. “Demi الله , pada masalah yang satu ini aku tidak akan menta’atimu”. Kata Zamri. Segera setelah itu ia membawa wanita tersebut ke dalam kemahnya. Dan terjadilah apa yang diperkirakan oleh Bal’am. Tak lama kemudian الله  SWT menurunkan wabah Tha’un (kolera) di kalangan Bani Israil. Ketika penyakit itu mewabah, Fanhash bin Al-Aizar bin Harun, sahabat Nabi Musa AS sedang pergi. Saat kembali ke perkemahan dan mendengar mewabahnya penyakit Tha’un tersebut, ia segera mengambil sebilah tombak lalu menyergap Zamri dan membawa keluar lelaki dan perempuan itu dari kemah.

Sungguh ajaib, setelah itu penyakit Tha’un yang menewaskan lebih dari 70.000 orang Bani Israil, segera hilang lenyap. Di dalam Al-Qur’an, kisah tentang Bal’am bin Wara’ tersebut terekam dalam Surah Al-A’raf 175-177 sebagai pelajaran bagi umat. Tiga ayat itu dimaksudkan sebagai perumpamaan mengenai orang yang telah dianugerahi ilmu oleh الله  SWT tetapi tidak mengamalkannya dan sebaliknya malah menyimpang dari nikmat yang diberikan.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah agar orang – orang yang berilmu mau berhati-hati, takut kepada الله  dalam menggunakan ilmunya, dan mengamalkannya untuk mencapai ketinggian derajat, kemuliaan serta bermanfaat bagi orang lain bukan untuk merendahkan derajat kemanusiaan.

  1. B.     Larangan terhadap orang yang lari dari wabah Tha’un

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Wabah Tha’un merupakan siksa atau adzab yang dikirimkan kepada bani Israel atau dikirimkan kepada ummat sebelum kalian. Apabila kalian mendengar wabah ini menyerang suatu daerah maka jangan kalian masuki daerah tersebut dan apabila kalian berada di sana maka janganlah kalian keluar untuk menghindarinya,” (HR Bukhari [5727] dan Muslim [2218]).

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf r.a, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila kalian mendengar wabah tersebut menyerang suatu daerah maka janganlah kalian memasuki daerah tersebut dan apabila kalian berada di sana maka janganlah kalian keluar untuk menghindarinya’,” (HR Bukhari [5729] dan Muslim [2219]).

Diriwayatkan dari Aisyah r.a,dari Nabi saw. bersabda, “Mati karena mengidap penyakit thaun termasuk syahidny amatku karena akibat tusukan musuh kalian dari kalangan jin. Dan tapal seperti tapalan unta yang tumbuh di pangkal-pangkal kaki dan marraq (kulit tipis yang ada di bawah perut). Barangsiapa yang meninggal karena karena mengidap penyakit itu maka ia mati syahid dan barangsiapa tetap tinggal di daerah tersebut maka ia seperti orang yang sedang berjaga-jaga dalam jihad fi sabilillah dan barangsiapa yang lari dari daerah tersebut maka ia seperti seorang yang lari dari perang,” (Hasan,lihat kitab ash-Shahihah [1928]).

Kandungan Bab:

  1. Larangan keras terhadap orang yang lari dari daerah yang terserang wabah thaun dan memasuki daerah tersebut.
  2. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Zaadul Ma’aad (IV/37) berkata, “Tha’un adalah sejenis wabah penyakit. Menurut ahli medis, thaun adalah pembengkakan kronis dan ganas, sangat panas dan nyeri hingga melewat batas pembengkakan sehingga kulit yang ada di sekitarnya bisa berubah menjadi hitam, hijau, atau berwarna buram dan cepat bernanah. Biasanya pembengkakan ini muncul di tiga tempat: Ketiak, belakang telinga, puncak hidung dan disekitar daging lunak.”
  3. Ia juga berkata, “Nanah, bengkak dan luka tersebut adalah efek penyakit thaun, bukan penyakit itu sendiri. Namun para ahli medis tidak dapat mendeteksi thaun kecuali hanya efeknya saja, lantas mereka menyebut efek tersebut dengan penyakit thoun.”

Penyakit thoun diungkapkan dengan tiga hal:

Pertama: Pengaruh yang tampak. Inilah yang disebutkan oleh para medis.

Kedua: Yang menyebabkan kematian. Dan inilah yang dimaksud dengan sabda beliau dalam hadits shahih, “Sampar adalah syahid bagi setiap muslim.”

Ketiga: Penyebab aktif timbulnya penyakit ini. Dalam sebuah hadits shahih tercantum, “Thaun adalah sisa siksaan yang telah dikirimkan Allah kepada Bani Israel.”

Dalam hadits tersebut tercantum, “Thaun adalah tusukan jin.” Juga tercantum bahwa thoun ini terjangkit karena do’a seorang nabi. Tidak ada ahli medis yang mampu menolak penyebab-penyebab munculnya penyakit ini dan mereka juga tidak mampu memberikan bukti yang menunjukkan indikatornya. Para Rasul mengabarkan tentang perkara ghaib serta pengaruh yang mereka ketahui tentang penyakit tha’un. Mereka juga tidak dapat menafikan munculnya penyakit ini melalui perantaraan jiwa. Sebab pengaruh jiwa pada kekuatan natural, penyakit dan kebinasaan merupakan perkara yang tidak dapat dipungkiri kecuali oleh orang-orang yang terlalu jahil terhadap ilmu jiwa dan pengaruhnya, serta reaksi tubuh dan tabi’atnya.

Allah SWT menjadikan jiwa dapat mengatur tubuh anak Ada ketika beredar wabah penyakit dan terjadinya polusi. Jiwa juga memiliki pengaruh terhadap beberapa zat beracun yang dapat menimbulkan efek buruk terhadap diri seseorang. Terutama ketika terjadi gejolak darah dan empedu serta ketika gejolak sperma berlangsung. Sesungguhnya kekuatan ruh syaitan lebih berhasil mempengaruhi orang yang sedang mengalami gejolak seperti ini daripada orang yang tidak mengalaminya.

Selama orang tersebut tidak menolaknya dengan kekuatan yang melebihi gejolak tersebut seperti dzikir, do’a, dan memohon dengan sepenuh hati, merendahkan diri, bersedekah dan membaca Al-Qur’an, maka hal itu akan mengundang turunnya ruh-ruh dan para malaikat yang dapat mengalahkan pengaruh ruh-ruh yang jahat, membasmi kejahatan dan menolak pengaruhnya.

Perkara ini acapkali kami lakukan. Hanya Allah sajalah yang dapat menghitungnya. Menurut hemat kami, memanggil ruh-ruh yang bait itu dan mendekatinya akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menguatkan mental dan menolak pengaruh-pengaruh buruk. Hal itu bila pengaruh-pengaruh tersebut belum menguasai dan bersemayam dalam jiwa. Sebab bila sudah demikian ia tidak akan mau beranjak.

Barangsiapa yang diberi taufik oleh Allah maka ia bersegera apabila merasakan pengaruh-pengaruh buruk itu untuk mengamalkan sebab-sebab yang dapat menolaknya. Itu merupakan obat yang paling bermanfaat baginya. Dan apabila Allah berkehendak melaksanakan ketetapan dan takdir-Nya maka Dia akan membuat hati seorang hamba lalu dari mengenalnya, menggambarkannya dan menghendakinya, maka ia tidak merasakannya dan tidak menginginkannya sehingga Allah menetapkan perkara yang pasti terjadi.

  1. Ibnul Qayyim berkata (IV/42), “Rasulullah saw. telah melarang umatnya memasuki daerah yang terkena wabah tha’un dan melarang orang yang sedang berada di daerah tersebut keluar darinya. Ini merupakan tindakan preventif dari beliau. Sebab memasuki daerah yang terjangkiti wabah berarti tindakan menentang mara bahaya. Tidak memasukinya merupakan pencegahan agar tidak mewabah di daerahnya dan penjagaan seorang insan terhadap dirinya. Dan itu (memasuki daerah wabah) merupakan tindakan yang bertentangan dengan syari’at dan akal. Bahkan mendhindar dari daerah tersebut termasuk bab penjagaan diri yang dianjurkan Allah SWT, yakni penjagaan diri dari daerah mukim dan udara yang sudah tercemar oleh wabah penyakit.”

Adapun larangan keluar dari daerah itu mempunyai dua makna:

  1. Menjaga diri tetap yakin terhadap Allah dan bertawakal kepada-Nya, sabar atas takdir-Nya dan ridha terhadap ketetapan-Nya.
  2. Sebagaimana yang dikatakan oleh pakar medis, “Bagi mereka yang ingin menjaga diri dari wabah penyakit maka ia harus mengeluarkan dari badannya cairan yang berlebih (misalnya keringa) dan mengurangi makan serta melakukan aktivitas apa saja yang dapat mengeringkan cairan tersebut, hanya saja ia tidak boleh berolah raga dan mandi. Keduanya termasuk pantangan yang harus dijauhi. Sebab tubuh tidak bisa terlepas dari sisa buruk yang terdapat dalam tubuh. Olah raga dan mandi dapat membangkitkannya dan mencampur aduknya dengan zat yang baik, dan hal itu akan menyebabkan penyakitnya bertambah parah. Bahkan ketika wabah penyakit tha’un menyerang, wajib bersikap diam dan tenang serta menenangkan diri dari gerakan-gerakan yang dapat membuat gejolak campuran itu. Tidak mungkin keluar dan pergi meninggalkan daerah yang terserang wabah tanpa melakukan gerakan yang berat dan ini dapat membahayakan badan.”  Ini merupakan pernyataan dari ahli medis terbaik pada abad ini. Dengan demikian jelaslah makna kesehatan yang mengandung pengobatan dan kemaslahatan hati dan badan sekaligus. Jika ada yang mengatakan, “Pada sabda Nabi saw, ‘Janganlah kalian lari keluar dari daerah tersebut’ adalah pernyataan yang membatalkan makna yang telah kalian sebutkan tadi. Hadits ini tidak melarang keluar disebabkan adanya hal yang mendadak dan tidak pula melarang seorang musafir melkaukan perjalanannya.” Dijawab, “Perkataan ini tidak pernah diucapkan oleh medis dan lainnya, bahwa ketika wabah menyerang manusia harus meninggalkan gerakan dan tinggal di rumahnya seperti benda mati. Tetapi seharusnya mereka berusaha untuk meminimalkan semua gerakan. Menghindari penyakit itu tidak harus melakukan gerakan kecuali untuk menghindar, sementara tetap diam dan tenang dapat lebih bermanfaat untuk hati dan tubuh, lebih bertawakal kepada Allah Ta’ala dan berserah diri pada ketentuan Allah.” Adapun sesuatu yang harus dilakukan dengan gerakan seperti buruh, pegawai, musafir, kurir dan lain-lain tidak bisa dikatakan kepada mereka. Kalian jangan bergerak sama sekali.

Jadi yang disuruh untuk ditinggalkan adalah gerakan-gerakan yang tidak diperlukan, seperti seorang yang sedang berlari menghindar dari penyakit. Allahu a’lam.

Dilarangnya masuk ke daerah yang sedang terjangkit wabah memiliki beberapa hikmah:

Pertama: Menghindar dan menjauhkan diri dari sebab-sebab yang membahayakan.

Kedua: Menjaga kesehatan yang merupakan unsur hidup di dunia dan akhirat.

Ketiga: Jangan sampai ia menghirup udara yang tercemar dengan penyakit sehingga mengakibatkan ia sakit.

Keempat: Jangan sampai ia mendekati orang-orang yang sudah terserang penyakit. Sebab mendekati mereka dapat menyebabkan ia tertular penyakit mereka.

Dalam kitab Sunan Abi Dawud dengan sanad yang marfu’ disebutkan, “Sesungguhnya qaraf itu menyebabkan kematian.”

Ibnu Qutaibah berkata, “Qaraf adalah mendekati orang yang sudah terserang wabah.”

Kelima: Menghindarkan diri dari ramalan-ramalan buruk dan dari penularan penyakit, sebab dua hal itu dapat mempengaruhi jiwa. Dan bagi yang memberikan ramalan jelek maka ia akan terkena kejelekan.

Kesimpulannya:

Larangan masuk ke daerah yang sudah terjangkit penyakit merupakan perintah untuk menjaga dan membentengi diri dan larangan untuk mendatangi perkara yang dapat mengakibatkan kebinasaan. Adapun larang keluar dari daerah tersebut merupakan perintah untuk bersikap tawakal, menyerah dan pasrah terhadap ketentuan Allah.

  1. Larangan masuk dan keluar dari daerah yang terserang wabah penyakit thau’un masih berlaku hingga saat ini dan teorinya masih dipakai disemua rumah sakit yang dikenal dengan ruang isolasi. Semua orang dilarang keluar masuk ke ruangan tersebut kecuali dokter dan perawat. Fungsinya untuk menghindari tersebarnya penyakit. Bab ini menunjukkan mukjizat dan kebenaran apa yang dibawa Nabi saw. Sebab cara pengobatan nabi tidak melalui penelitian.
  1. 2.      MANFAAT WUDLU BAGI KESEHATAN
  1. Pengertian Wudhu

Wudhu adalah mensucikan diri dari segala hadast kecil sesuai dengan aturan syariat islam. Wudhu menurut bahasa, berasal dari kata Al_Wadha’ah yang berarti kebersihan dan kecerahan. Kata wudhu’ dengan men-dhamah-kan huruf waw adalah perbuatan wudhu’, sedangkan dengan men-fathah-kan huruf waw (wadhu’) berarti air untuk berwudhu’. [Lihat Fairuz Abadi, Al_Qamus Al_Muhith (I/33); Mukhtar Ash_Shahihah, hal. 575; dan Al_Majmu’ (I/355)]

Menurut istilah, wudhu’ adalah penggunaan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu – yaitu wajah, dua tangan, kepala, dan dua kaki – untuk menghilangkan apa yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat dan ibadah yang lain. Wudhu disyariatkan berdasarkan dalil_dalil Alquran, sunnah, dan ijma (kesepakatan para ulama). Menurut Alquran, Allah Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. “ [QS. Al_Maidah (5): 6]

Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.

Artinya: menyentuh. menurut Jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian Mufassirin ialah: menyetubuhi. [Lihat Al_Qur’an dan Terjemahnya, hal. 158-159] Menurut sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan diterima shalat salah seorang di antara kalian apabila ia berhadats, hingga ia berwudhu.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al_Bukhary dan Muslim dari Abu Hurairah]

Adapun menurut ijma, Ibnu Al_Mundzir mengatakan bahwa para ulama umat ini telah sepakat, tidak sah shalat tanpa bersuci, jika ia mampu untuk melakukannya. [Lihat Kitab Al_Ausath karya Ibnu Al_Mundzir, , hal. 1/107]

  1. Niat Wudhu :
    NAWAITUL WUDHUU-A LIROF’IL HADATSIL ASGHORI FARDHOL LILLAHI TA’AALAA.

Artinya :
Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil karena Allah Ta’ala.

  1. Hal-hal yang dapat membatalkan Wudhu :
    1. Mengeluarkan suatu zat dari qubul (kemaluan) dan dubur (anus). Misalnya buang air kecil, air besar, buang angin/kentut dan lain sebagainya.
    2. Kehilangan kesadaran baik karena pingsan, ayan, kesurupan, gila, mabuk, dan  lain-lain.
    3. Bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya tanpa tutup.
    4. Tidur dengan nyenyak, kecuali tidur mikro (micro sleep) sambil duduk tanpa berubah kedudukan.
    5. Cara Berwudhu :

1)        Membaca bismillah

2)        Membasuh tangan

3)        Niat wudhu

Niat adalah bermaksud melaksanakan suatu perkara sembari (serta) melakukanya.Tempatnya niat adalah hati sedangkan mengucapkanya adalah sunat. Waktunya niat adalah ketika membasuh salah satu anggota muka(ketika air mengenai muka). Tartib adalah mendahulukan anggota wudlu yang pertama dan berurutan. contohnya niat sebelum membasuh muka.

4)        Berkumur dan membesihkan gigi (3x)

5)        Membasuh seluruh muka/wajah sampai rata (sela-sea janggut bila ada) (3x)

6)        Membasuh tangan hinnga siku merata (3x yang kanan dulu)

7)        Membasuh rambut bagian depan hingga rata (3x)

8)        Membasuh daun telinga/kuping hinnga merata (3x sebelah kanan dulu)

9)        Membasuh kaki hingga mata kaki sampai rata (3x kanan dahulu)

10)    Membaca doa setelah wudhu.

  1. Manfaat Wudhu Bagi Kesehatan

Ibadah wudhu tampaknya sepele dan mudah dilakukan. Karena itu, banyak umat Islam yang memandangnya biasa-biasa saja. Padahal, bila wudhu dikerjakan tidak sempurna, shalatnya pun tidak akan diterima (HR Bukhari No 135 dan Muslim No 224-225).

Kendati sederhana, manfaatnya sangat besar. Itulah yang dibuktikan oleh para ahli kesehatan dunia. Salah satunya adalah Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater sekaligus neurolog berkebangsaan Austria. Ia menemukan sesuatu yang menakjubkan dalam wudhu karena mampu merangsang pusat syaraf dalam tubuh manusia. Karena keselarasan air dengan wudhu dan titik-titik syaraf, kondisi tubuh senantiasa akan sehat.

Dari sinilah ia akhirnya memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.

Ulama fikih juga menjelaskan hikmah wudhu sebagai bagian dari upaya untuk memelihara kebersihan fisik dan rohani. Daerah yang dibasuh dalam air wudhu-seperti tangan, daerah muka termasuk mulut, dan kaki –memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing, termasuk kotoran. Karena itu, wajar kalau daerah itu yang harus dibasuh.

Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers a Sport for the Body and Soul menjelaskan, wudhu bisa mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Kemudian, apabila dibersihkan dengan air (terutama saat wudhu), bahan kimia itu akan larut. Selain itu, jelasnya, wudhu juga menyebabkan seseorang menjadi tampak lebih muda.

Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa munculnya penyakit kulit disebabkan oleh rendahnya kebersihan kulit. Karena itu, orang yang memiliki aktivitas padat (terutama di luar ruangan) disarankan untuk sesering mungkin membasuh atau mencuci anggota badannya yang terbuka, seperti kepala, muka, telinga, hidung, tangan, dan kaki.

Sebab, penyakit kulit umumnya sering menyerang permukaan kulit yang terbuka dan jarang dibersihkan, seperti di sela-sela jari tangan, kaki, leher, belakang telinga, dan lainnya. Karena itu, Mochtar Salem memberi saran agar anggota tubuh yang terbuka senantiasa dibasuh atau dibersihkan dengan menggunakan air.

Rasul SAW menyatakan, wajah orang yang berwudhu itu akan senantiasa bercahaya. Rasulullah akan mengenalinya nanti pada hari kiamat karena bekas wudhu. “Umatku nanti kelak pada hari kiamat bercahaya muka dan kakinya karena bekas wudhu.”

Muhammad Kamil Abd Al-Shomad, yang mengutip sumber dari Al-I’jaz Al-Ilmiy fi Al-Islam wa Al-Sunnah AlNabawiyah, menjelaskan bahwa manfaat semua hal yang diperintahkan dalam wudhu sangatlah besar bagi tubuh manusia. Mulai dari membasuh tangan dan menyela-nyela jari, berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam lubang hidung, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap kepala, membasuh telinga, hingga membasuh kaki hingga mata kaki.

Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dalam bukunya Lentera Hidup menuliskan keutamaan wudhu. “Sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari-semalam setiap Muslim diperintahkan untuk berwudhu dan mengerjakan shalat. Meskipun wudhu belum lepas (batal), disunahkan pula memperbaruinya. Oleh ahli tasawuf, diterangkan pula hikmah wudhu itu. Mencuci muka artinya mencuci mata, hidung, mulut, dan lidah kalau-kalau tadinya berbuat dosa ketika melihat, berkata, dan makan.

Mencuci tangan dengan air dalam hati dirasa seakanakan membasuh tangan yang telanjur berbuat salah. Membasuh kaki dan lain-lain demikian pula. Mereka memperbuat hikmat-hikmat itu meskipun dalam hadis dan dalil tidak ditemukan. Tujuannya adalah supaya manusia jangan membersihkan lahirnya saja, sementara batinnya masih tetap kotor. Hati yang masih tamak, loba, dan rakus, kendati sudah berwudhu, maka wudhunya lima kali seharisemalam itu berarti tidak berbekas dan tidak diterima oleh Allah SWT, dan shalatnya pun tidak akan mampu menjauhkan dirinya dari perbuatan fakhsya’ (keji) dan mungkar (dibenci).”

Buya Hamka menambahkan, wudhu itu dapat menyehatkan badan. “Bukanlah kita hidup ini untuk mencari pujian dan bukan pula supaya kita paling atas di dalam segala hal. Meskipun itu tidak kita cari, kalau kita senantiasa menjaga kebersihan, kita akan dihormati orang juga.” Mencegah penyakit Bila kita mencermati dan mempelajari sejarah hidup Rasulullah SAW, seperti yang diungkapkan Muhammad Husein Haykal dalam bukunya Hayatu Muhammad, sepanjang hidupnya Rasulullah SAW tak pernah menderita penyakit, kecuali saat sakaratul maut hingga wafatnya. Hal ini menunjukkan bahwa wudhu dengan cara yang benar niscaya dapat mencegah berbagai macam penyakit.

Menurut sejumlah penelitian, berwudhu itu dapat menghilangkan berbagai macam penyakit. Misalnya, penyakit kanker, flu, pilek, asam urat, rematik, sakit kepala, telinga, pegal, linu, mata, sakit gigi, dan sebagainya. Dalam penelitian yang dilakukan Muhammad Salim tentang manfaat wudhu untuk kesehatan, terungkap bahwa berwudhu dengan cara yang baik dan benar akan mencegah seseorang dari segala penyakit. Dalam penelitiannya itu, Muhammad Salim juga menganalisis masalah kesehatan hidung dari orang-orang yang tidak berwudhu dan yang berwudhu secara teratur selama lima kali dalam sehari untuk mendirikan shalat.

Salim mengambil zat dalam hidung pada selaput lendir dan mengamati beberapa jenis kumannya. Pekerjaan ini ia lakukan selama berbulan-bulan. Berdasarkan analisisnya, lubang hidung orang-orang yang tidak berwudhu memudar dan berminyak, terdapat kotoran dan debu pada bagian dalam hidung, serta permukaannya tampak lengket dan berwarna gelap. Adapun orang-orang yang teratur dalam berwudhu, ungkap Salim, permukaan rongga hidungnya tampak cemerlang, bersih, dan tidak berdebu. “Sesungguhnya, cara berwudhu yang baik adalah dimulai dengan membasuh tangan, berkumur-kumur, lalu mengambil air dan menghirupnya ke dalam hidung kemudian mengeluarkannya. Langkah ini hendaknya dilakukan sebanyak tiga kali secara bergantian,” kata Salim.

Dari penelitiannya ini pula, Muhammad Salim berhasil meraih gelar master dari Fakultas Kedokteran Universitas Iskandariyah, Kairo, Mesir. Jauh sebelum adanya penelitian ini, Rasul SAW pernah bersabda, “Sempurnakan wudhu, lakukan istinsyaq (memasukkan air ke hidung), kecuali jika kamu berpuasa.”

FISIOTERAPI WUDHU

Setiap perintah Allah SWT tentu memiliki hikmah kebaikan dibaliknya. Bayangkan bahwa wudhu adalah ritual pengkondisian seluruh aspek hidup, mulai dari psikologis & fisiologis.

5 panca indera…kok kena semua tanpa terkecuali disapu oleh air wudhu. Mata, hidung, telinga & seluruh kulit tubuh. Ini betul-betul luar biasa.

Ahli syaraf/ neurologist pun telah membuktikan dengan air wudhu yang mendinginkan ujung-ujung syaraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki berguna untuk memantapkan konsentrasi pikiran.

Coba bayangkan…

Pada anggota badan yang terkena perlakuan wudhu terdapat ratusan titik akupunktur yang bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan/urutan ketika melakukan wudhu. Stimulus tersebut akan dihantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ dan sistim organ yang bersifat terapi. Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi yaitu sistem syaraf dan hormon bekerja untuk mengadakan homeostasis (keseimbangan). Titik-titik akupunktur, suatu fenomena yang menarik bila dikorelasikan dengan kayfiyat wudhu yang disyari’atkan 15 abad yang lalu.

Setelah dihitung-hitung…ternyata terdapat 493 titik reseptor pada anggota wudhu!!

Anggota Wudhu(rukun dan sunat) JumlahTitik Akupunktur

Wajah 84

Tangan 95

Kepala 64

Telinga 125

Kaki 125

Jumlah 493

Subhanallah!! Bayangkan jika kita melakukan itu setiap hari paling sedikit 5 kali sehari…

Ternyata kita harus semakin teliti saat menjalani wudhu. Mengapa? Coba ingat-ingat saat kita membasuh telapak kaki & tangan…apakah sela-sela jari sering kita abaikan? Ternyata ada fakta menarik yang tidak boleh luput :

Satu diantaranya adalah ketika melakukan takhlil, diantara sela-sela jari tangan dan kaki terdapat masing-masing satu titik istimewa (Ba Sie pada sela-sela jari tangan & Ba Peng pada sela-sela jari kaki). Jadi, keseluruhannya terdapat 16 titik akupunktur. Berdasarkan riset fakar akupunktur, titik-titik tersebut apabila dirangsang dapat menstimulir bio energi (Chi) guna membangun homeostasis. Sehingga menghasilkan efek terapi yang memiliki multi indikasi, seperti untuk mengobati migren, sakit gigi, tangan-lengan merah, bengkak, dan jari jemari kaku.

Lain lagi tentang telinga…ternyata ada 30 hadist yang mendukung ini. BTW, saya pernah coba sebuah produk akupunktur yang menggunakan tenaga listrik. Lucu juga, karena alat ini disimpan di daun telinga. Dan ketika dialiri listrik rasanya seperti telinga ditusuk-tusuk. Saya semakin paham bahwa daun telinga, selain sebagai aksesoris, ternyata terkandung banyak sekali titik reseptor syaraf. Makanya, saat menyapu telinga itu jangan cuma membasuh saja, tapi harus dengan pijatan juga. Ini namanya aurikulopressure alias pijat akupunktur telinga.

Subhanallah…luar biasa ternyata kandungan rahasia wudhu…

  1. Hikmah Dalam Berwudhu

Wudhu’ merupakan suatu amalan yang kerap kali kita lakukan. Tata caranya cukup ringkas dan praktis. Namun mengandung keutamaan yang besar. Sehingga tidak boleh kita memandangnya dengan sebelah mata. Karena seluruh syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam terkandung padanya hikmah dan manfa’at. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Allah tidak akan menganiaya (siapa pun) walau menzhalimi sekecil dzarrah (sekecil apapun), dan jika ada kebajikan walau sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan pahala yang besar.” (An Nisaa’: 40)

Seperti halnya dengan wudhu’, meski amalan ini terkesan ringan dan ringkas, tetapi memiliki keutamaan yang besar tiada tara. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala janjikan pada ayat diatas. Berikut ini kami sebutkan beberapa keutamaan wudhu’, diantaranya:

  1. Pembersih dari Noda-Noda Dosa dan Penambah Amal Kebajikan Perlu kita sadari, bahwa manusia itu bukanlah makhluk yang sempurna, bahkan Allah subhanahu wata’ala sebagai Sang Khaliq (Pencipta) mensifati manusia dengan sifat yang sering lalai dan bodoh, sehingga sering terjatuh dalam perbuatan dosa dan kezhaliman. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Sesungguhnya manusia itu amat aniaya (zhalim) dan amat bodoh.” (Al Ahzab: 72) Ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dari sahabat Anas bin Malik:
    كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat kepada-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad Darimi)

Akan tetapi, dengan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang amat luas, Allah subhanahu wata’ala memberikan solusi yang mudah untuk membersihkan diri dari noda-noda dosa diantaranya dengan wudhu’. Hingga ketika seseorang selesai dari wudhu’ maka ia akan bersih dari noda-noda dosa tersebut.

Dari shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim no. 244).

Subhanallah… sebuah rahmat dan kasih sayang yang sangat besar tiada tara yang diberikan Sang Rabbul ‘Alamin kepada para hamba-Nya.

  1. Anggota Wudhu’ Akan Bercahaya Pada Hari Kiamat Pada hari kiamat nanti, umat Nabi Muhammad Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam akan terbedakan dengan umat yang lainnya dengan cahaya yang nampak pada anggota wudhu’. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوء

    “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)  Dalam riwayat yang lain: Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Seraya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memilki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kuda-kuda yang yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para shahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu’ mereka.” (HR. Mslim no. 249)

Dalam hadits diatas menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang akan bercahaya nanti pada hari kiamat itu disebabkan karena amalan wudhu’. Tentunya, siapa yang tidak pernah berwudhu’, maka bagaimana mungkin dia akan bercahaya yang dengan tanda itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan mengenali sebagai umatnya?

  1. Mengangkat Derajat Disisi Allah subhanahu wata’ala Semulia-mulia derajat adalah derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Adapun seseorang yang meraih derajat tinggi dihadapan manusia itu belum tentu ia berada pada derajat tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Maka dengan wudhu’ yang sempurna akan dapat mengangkat derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya! Para shahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang disebut dengan ar ribath.” (HR. Muslim no. 251)

Selain wudhu’ memiliki keutamaan yang besar, wudhu’ juga memilki peranan dan pengaruh penting pada amalan yang lainnya.  Coba perhatikan pada shalat lima waktu atau shalat sunnah lainnya yang kita kerjakan! Tidak akan sah shalat jika tanpa berwudhu’ terlebih dahulu. Karena wudhu’ merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Sebagaiamana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidaklah Allah menerima shalat seseorang apabila ia berhadats hingga dia berwudhu’.” (HR Al Bukhari no 135 dan Muslim no 225 dari sahabat Abu Hurairah)

Demikian pula ijma’ (kesepakatan) para ‘ulama bahwasanya shalat tidak boleh ditegakkan kecuali dengan berwudhu’ terlebih dahulu, selama tidak ada udzur untuk meninggalkan wudhu’ tersebut (Al Ausath 1/107).

Berikut ini akan kami paparkan beberapa waktu disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu’. Dengan ini kita akan mengetahui betapa tinggi peranan dan pengaruh dari sebuah amalan wudhu’. Sehingga kita tidak menganggapnya enteng. Diantara waktu yang disunnahkan untuk berwudhu’, yaitu:

1)   Berwudhu’ Ketika Hendak Pergi ke Masjid Termasuk sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ sebelum berangkat shalat berjama’ah ke masjid. Yang memiliki pengaruh (nilai) yang lebih dibanding tidak berwudhu’ sebelumnya. Yaitu Allah subhanahu wata’ala menjadikan barakah pada setiap langkah kaki kanan maupun kiri berupa pengahusan dosa dan penambahan pahala. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang dari kalian berwudhu’, lalu ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi ke masjid karena semata-mata hanya untuk melakukan shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kaki kirinya melainkan terhapus kejelekan darinya dan dituliskan kebaikan bersama langkah kaki kanannya hingga masuk masjid.” (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir dari shahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 454).

2)   Menyentuh Mushaf Al Qur’an Al Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai kitab suci umat Islam. Dalam rangka memulikan Al Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah) maka disunnhakan berwudhu’ sebelum memegang kitab suci Al Qur’an ini. Al Imam Ath Thabrani dan Al Imam Ad Daraquthni meriwayatkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari shahabat Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu:

لاَتَمُسُّ القُرآنَ إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Janganlah kamu menyentuh Al Qur’an kecuali dalam keadaan suci”.
Bagaimana jika hanya membacanya saja tanpa menyentuhnya, apakah hal ini juga disunnahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Ya, hal itu disunnahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya aku tidak menyukai berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.”
(HR. Abu Daud dan An Nasa’i dari sahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani).
Tentunya, membaca Al Qur’an adalah semulia-mulia dzikir kepada Allah.

3)   Berwudhu’ Ketika Hendak Tidur Termasuk sunnah Rasulullah adalah berwudhu’ sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim dalam kondisi suci pada setiap kedaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur. Hingga bila memang ajalnya datang menjemput, maka diapun kembali kehadapan Rabb-Nya dalam keadaan suci.

Dan sunnah ini pun akan mengarahkan pada mimpi yang baik dan terjauhkan diri dari permainan setan yang selalu mengincarnya. (Lihat Fathul Bari 11/125 dan Syarah Shahih Muslim 17/27)  Tentang sunnah ini, Rasulullah telah menjelaskan dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari sahabat Al Barra’ bin ‘Azib, bahwasanya beliau berkata: “Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah sebagaimana wudhu’mu untuk shalat.” (HR. Al Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)
Lebih jelas lagi, dari riwayat shahabat Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dalam keadaan dengan berdzikir dan bersuci, kemudian ketika telah terbangun dari tidurnya lalu meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan mengabulkannya.” (Fathul Bari juz 11/124)

Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim meneladaninya. Bahkan ketika beliau terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudhu’ lagi sebelum kembali ke tempat tidurnya. Sebagaimana yang diceritakan Abdullah Bin Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Bahwasanya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk menunaikan hajat. Kemudian beliau membasuh wajah dan tangannya (berwudhu’) lalu kembali tidur.” (HR. Al Bukhari no. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4217)

4)   Berwudhu’ Ketika Hendak Berhubungan Dengan Istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan bimbingan bagi para pasutri (pasangan suami istri) ketika hendak bersetubuh. Hendaknya bagi pasutri berdo’a sebelum melakukannya, dengan doa’ yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkan (gangguan) setan terhadap apa yang Engkau rezikan kepada kami.” (HR. Al Bukhari no. 141) Kemudian ketika sudah usai dan ingin mengulanginya lagi maka hendaknya keduanya berwudhu’ terlebih dahulu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang telah berhubungan denga istrinya, kemudia ingin mengulanginya lagi maka hendaklah berwudhu’ terlebih dahulu.” (HR. Muslim no 308, At Tirmidzi, Ahmad dari Abu Sa’id Al Khudri dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ats Tsamarul Mustathob hal.5)
Dengan tujuan agar setan tidak ikut campur dalam acara yang sakral ini dan bila dikarunia anak, maka setan tidak mampu memudharatkannya.

  1. 3.      MANFAAT BERJALAN KAKI KE MASJID

Nabi saw menekankan shalat berjamaah di masjid. Beliau juga menerangkan bahwa berjalan kaki ke masjid pahalanya besar. Semakin jauh jarak yang ditempuh seseorang yang berjalan menunaikan shalat, semakin besar pula pahala yang akan diraihnya.

Rasulullah bersabda:”Orang yang paling besar pahalanya dalam shalat ialah yang paling jauh berjalan menujunya.Orang yang menunggu shalat sampai ia menunaikannya bersama imam, lebih besar pahalanya dari orang yang menunaikan shalat kemudian tidur.” Dalam riwayat Abu kuraib.,”Sampai ia menunaikannya bersama imam dalam shalat berjamaah.”(HR MUSLIM)

Jika seseorang pergi ke masjid dengan berjalan kaki lima kali per hari. Maka, kita dapati bahwa setiap hari seorang muslim berjalan menempuh jarak tertentu yang berbeda-beda antara satu orang muslim dengan lainnya sesuai jarak rumahnya dengan masjid.

Taruhlah waktu yang dibutuhkan seorang muslim untuk pulang pergi ke masjid setiap harinya minimal 5 menit, berarti setiap hari ia sudah berjalan minimal 25 menit. Dan menurut hasil penelitian ilmiah menganjurkan untuk berjalan kaki setidaknya 30 menit setiap hari. Hasil penelitian ini juga menerangkan berbagai manfaat yang akan dirasakan seseorang dengan berjalan.

1)      Berjalan 30 Menit Setiap Hari Menurunkan Tekanan Darah

Menurut para peneliti dari universitas lllinois, Amerika Srikat, bahwa berjalan kaki selama 30 menit setiap hari dapat  membantu menurunkan tekanan darah  pada pembuluh arteri sampai batas yang normal.

Para dokter juga menganjurkan mereka yang terkena penyakit tekanan darah untuk berjalan kaki dan banyak gerak dalam kegiatan sehari-hari, seperti lebih memilih menggunakan tangga daripada lift, memarkir mobil di tempat agak jauh dari tempat kerja/rumah, serta mengurangi garam.

2)      Berjalan Kaki Dapat Memperbaiki Kerja Jantung

Berjalan kai bermanfaat memperbaiki kinerja jantung, menjaga kesehatannya, menurunkan kolesterol, menurunkan tekanan darah, memperbaiki sistem metabolisme, dan mengoptimalkan penyerapan makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang gemuk dan kurang gerak metabolismenya lambat. Dan orang yang banyak gerak dan olahraga metabolisme. Dan orang yang banyak gerak dan olahraga  metabolismenya cepat, tulang-tulangnya kuat, kesehatan persendiannya terjaga, otot-ototnya kuat, dan ketegangan psikologisnya menjadi ringan. Sebab secara umum, olahraga dapat membantu proses ekskresi hormon Endorfin yang membuat seorang merasakan rileks dan gembira.

Olahraga berjalan kaki juga dapat meringankan ketegangan psikologis seperti kecemasan dan kegalauan yang muncul akibat beban hidup sehari-hari yang tak kenal henti. Maka dari itu, dengan berjalan kaki akan menjadikan seseorang memahami dirinya sendiri dengan positif; ia akan merasa bahagia, gembira, dan selalu optimis terhadap dirinya.

Berjalan kaki juga bermanfaat untuk menghilangkan stres, cemas, kepenatan sehari-hari, dan menenangkan kondisi psikologis saraf.Berjalan kaki juga membantu untuk mengatasi berat badan berlebih, tentunya semua tergantung pada jarak, kecepatan, waktu tempuh, dan energi yang dikeluarkan. orang yang berjalan kaki sejauh 4km/jam telah membakar 200-250 kalori per jam. Atau sekitar 22-28 gr dari berat tubuh.

Satu makalah yang disebarluaskan dalam majalah (B.M.T) yang cukup terkenal, menguatkan hasil penelitian diatas bahwa untuk mencegah dari penyakit Kardiovaskular dan Infark Miokard bisa dilakukan dengan menekuni satu bentuk olahraga, seperti: jalan cepat, lari, atau renag selama 20-30 menit; minimal 2-3 kali sepekan.

Ketahuilah bahwa Rasulullah tidak menganjurkan kita berjalan kaki ke masjid 2-3 kali dalam sepekan saja, tapi 5 kali dalam satu hari. Kebanyakan jarak masid biasa ditempuh selama sepuluh menit atau lebih. Ibnul Qayyim ra berkata,”Rasulullah apabila berjalan ke masjid, dada beliau condong ke depan dan beliau orang yang paling cepat jalannya.

3)      Manfaat Lain berjalan kaki ke Masjid menurut anjuran Rasulullah SAW. Bagi Kesehatan

Kesehatan adalah mahkota tak terlihat, banyak orang yang tertipu dengan kesehatan, sehingga terkadang tidak mengoptimalkan kesehatan. Kesehatan menjadi sesuatu yang sangat mahal, bahkan tak bisa dibeli dengan uang. Maka, pola hidup sehat harus senantiasa diterapkan. Dengan tubuh sehat, seseorang bisa lebih optimal dan lebih Khusyu’ dalam beribadah kepada Alloh. Pendengar yang budiman, Info sehat kali ini kita akan membahas mengenai manfaat berjalan kaki.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berjalan kaki ke Masjid, ke Pasar, Medan Jihad, mengunjungi Rumah Sahabat, dsb. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori-pori terbuka, dan peredaran darah semakin bertambah lancar. Hal ini sangat penting untuk mencegah penyakit jantung.

Begitu banyak bentuk olahraga yang selaras dengan gaya hidup Islami, dan dapat dilakukan oleh kita semuanya, salah satunya adalah dengan berjalan kaki.

Dengan berjalan kaki setiap hari secara teratur, maka bukan hanya dapat membuat kita merasa lebih baik dan berenergi dalam mengerjakan apa pun, tapi juga bisa mengurangi risiko munculnya penyakit-penyakit berbahaya seperti serangan jantung, kanker, diabetes, dan depresi.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dikenal memiliki kebiasaan berjalan kaki, sebagaimana disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih baik dan lebih tampan dari Rosululloh; roman mukanya secemerlang matahari, juga tidak pernah melihat orang yang secepat beliau. Seolah-olah bumi ini digulung oleh langkah-langkah beliau ketika sedang berjalan. Walaupun kami berusaha untuk mengimbangi jalan beliau. Tapi beliau tampaknya seperti berjalan santai saja.”

Bahkan Rosululloh tak jarang mengajak istrinya untuk melakukan aktivitas yang menyehatkan tubuh. Rosululloh pernah mengajak istrinya, Aisyah, untuk berlomba dengan beliau.

Adapun beberapa manfaat dari berjalan kaki tersebut antara lain adalah:

  1. Memperkuat kaki dan sistem pernafasan.
  2. Berjalan kaki merupakan salah satu latihan yang membuat semua bagian tubuh kita bergerak. Bila kita mencoba berjalan lebih cepat, ini akan meningkatkan denyut jantung dan memberikan kebugaran secara fisik.
  3. Berjalan kaki dapat membantu memperbaiki postur tubuh ketika kaki dan tubuh bagian bawah bergerak. Hal ini juga membantu memperkuat kaki dan tubuh bagian bawah serta membuat sendi lebih fleksibel.
  4. Ketika berjalan kaki, semua bagian tubuh bergerak dan lebih cepat mengeluarkan energi. Ini akan membantu membakar lemak dan menurunkan berat badan. Berjalan kaki juga membantu mengontrol berat badan dalam jangka waktu yang lama.
  5. Mengurangi risiko terjadinya serangan jantung, meningkatkan fungsi sistem pernafasan, membantu mengatasi hipertensi dan sebagai terapi rehabilitasi bagi yang telah mengalami serangan jantung. Berjalan kaki juga efektif dalam mencegah penyakit pernafasan.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: